Pemimpin Menurut Kitab Suci Weda dan Susastranya

Ni Made Ratini

Sari


Membahas masalah kepemimpinan sangat komplek, untuk itu, agar tidak melebar, dalam kesempatan ini khusus dibahas “pemimpin Menurut Bahasa Kitab Suci Weda Dan Susastranya” .
Pemimpin adalah seseorang yang memiliki untuk menggerakan orang lain dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan, dan sebagai pengambil suatu keputusan dalam menetapkan perancanaan, oprasional dan pengawasan. Kepemimpinan adalah suatu seni/pengetahuan untuk menggerakan orang lain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan/Visi dan Misi dalam suatu organisasi. Kepemimpinan adalah inti dari organisasi, administrasi dan manejeman. Oleh karena itu pemimpin merupakan fungsi sentral/penentu dalam organisasi, manejemen dan administrasi guna mewujudkan Visi dam Misi yang telah ditetapkan.
Dewasa ini ada kecendrungan pemimpin suatu organisasi/lembaga bersumberkan dari tiori-tiori negara-negara barat, seperti tiori-tiori manejemen, ledership gaya Eropah/Amerika. Ini bisa dimaklumi, karena mereka pemimpin bukan dari kalangan yang beragama Hindu.Khusus kebetulan yang dapat kesempatan memimpin organisasi/lembaga, baik formal maupun non formal dari kalangan yang beragama Hindu sebaiknya menerapkan tiori-tiori yang bersumberkan dari bahasa yang tersurat dan tersirat dalam Weda dan Susastranya, karena tidak kalah menariknya, salah satunya adalah Kautilya Arthasastra.
Tiori Kepemimpinan dari Kautilya Arthasastra adalah sutu tiori kepemimpinan apa yang membuat pemimpin senang bukanlah kesejahteraan, namun apa yang membuat yang dipimpin sejahtera, itulah kesenangan seorang Pemimpin. Maksudnya pernyataan ini bahwa tujuan dan makna kesuksesan seorang pemimpin apabila tercipta kesejahteraan bagi seluruh anggota organisasi/lembaga.
Dalam Sastra Hindu, sejarah kepemimpinan selalu menampilkan sosok seorang pemimpin dari keturunan Dewa. Ini menggambarkan bahwa seorang pemimpin diharapkan memiliki sifat-sifat kedewataan, karena Dewa mempunyai sifat sebagai Pencipta, pemelihara dan pralina (Brahma, Wisnu dan Siwa/Utpeti, Stiti dan Pralina). Sifat-sifat ini diharapkan dalam Sastra Weda dan Susastranya seorang pemimpin Hindu hendaknya mampu menciptakan inovasi-inovasi baru dalam kepemimpinannya, dan memeliharanya serta memperbaiki/pralina yang kurang baik agar menjadi baik.
Oleh sebab itu tidak mengherankan jika para Raja/pemimpin dimasa lalu di Jawa misalnya, Sri Airlangga digambarkan sebagai perwujudan Dewa Wisnu yang menaiki burung Garuda Wisnu Kencana. Garuda adalah simbol pembebasan, simbol kemerdekaan. Diharapkan seorang pemimpin Hindu hendaknya harus bisa membebaskan kepada yang dipimpinya/anggotanya dari segala kemelaratan. Wisnu adalah simbol pelindung, pemelihara Maha Agung.Diharapkan seorang pemimpin Hindu hendaknya harus mampu melindungi kepada yang dipimpinya dari segala ancaman, gangguan, dan menciptakan rasa aman, tenteram. Kencana adalah simbol kewibawaan, kemegahan. Diharapkan seorang pemimpin Hindu hendaknya memiliki kekuatan/bala, kekayaan/kosa dan fasilitas/wahana.

Teks Lengkap:

PDF

Referensi


Aryasna, Tut De. 2004. Kepemimpinan Hindu. Surabaya ; Paramitha Surabaya.

Indra, Wijaya Ibrahim, dkk. 2001. Kepemimpinan Dalam Organisasi. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara RI.

PGH 6 Tahun Singaraja. 1997. Niti Sastra Dalam Bentuk Kekawin. Jakarta ; Dirjen Bimas Hindu Dan Budha

Puja, Gede. 2005. Bhagawad Gita. Surabaya ; Paramitha Surabaya.

Sudarta, Tjok Rai. 1992. Asta Brata Dalam Pembangunan. Jakarta. Prasasti Jakarta.

______________ . 2003. Slokantara. Surabaya ; Paramitha Surabaya.

Supriadi, Garing. 2003. Kepemimpinan Dalam Ragam Budaya. Jakarta ; Lembaga Adaministrasi Negara RI

Wiratmadja, Adya G.K. 1995. Kepemimpinan Hindu. Denpasar ; Yayasan Dharma Naradha.

Kautilya. 2003. Arthasastra, terj. Made Astana & C.S. Anomdiputro, Surabaya:Paramita.

Manser, Martin H., et all. 1995. Oxford Leaner’s Pocket Dictionary. New York:Oxford University Press.

Pudja, Gede., Tjokorda Rai Sudharta. 2002. Manawa Dharma Śāstra, Compendium Hukum Hindu. Jakarta : Pelita Nursatama Lestari.

Surada, Made. 2008. Kamus Sanskerta Indonesia.Denpasar : Penerbit Widya Dharma.

Tim Penyusun. 2004. Buku Pelajaran Agama Hindu untuk SLTA Kelas 2. Surabaya:Paramita.

Tim Penyusun. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai Pustaka.

Titib, I Made. 1995. Pemuda dan Pola Kepemimpinan Hindu Menurut Veda, Makalah disampaikan pada acara Pendidikan Kepemimpinan Regional, diselenggarakan oleh DPD PERADAH 15 September 1995 di Hotel New Victory, Selecta, Batu, Malang, Jawa Timur.

Wojowasito, S. 1977. Kamus Kawi – Indonesia, Bandung : Pengarang.

Zoetmulder, P.J. 2006. Kamus Jawa Kuna – Indonesia, terj. Darusuprapta, dan Sumarti Suprayitna, Jakarta:Gramedia.

Ric Estrada (Alih Bahasa : Tatang Setia M.), Kepemimpinan Dalam Konperensi (Confrence Leadership),Jakarta:1982

Simanhadi Widyaprakoso, Kepemimpinan (Materi Diklatsar Metodologi P2M Univ. Jember)

Widnyana, Kepemimpinan dan Sosiologi Pedesaan (Materi Pembekalan KKN Unwar 88/89)

______________, Kakawin Ramayana, (Proyek Terjemahan: Dinas P&KProp.Bali 1986)

______________, Majalah, Koran, dan sumber lain yang terkait.

Aryasna, Tut De. 2004. Kepemimpinan Hindu. Surabaya ; Paramitha Surabaya.

Indra, Wijaya Ibrahim, dkk. 2001. Kepemimpinan Dalam Organisasi. Jakarta : Lembaga Administrasi Negara RI.

PGH 6 Tahun Singaraja. 1997. Niti Sastra Dalam Bentuk Kekawin. Jakarta ; DirjenBimas Hindu Dan Budha

Puja, Gede. 2005. Bhagawad Gita. Surabaya ; Paramitha Surabaya.

Sudarta, Tjok Rai. 1992. AstaBrata Dalam Pembangunan. Jakarta. Prasasti Jakarta.

______________ . 2003. Slokantara. Surabaya ; Paramitha Surabaya.

Supriadi, Garing. 2003. Kepemimpinan Dalam Ragam Budaya. Jakarta ; Lembaga Adaministrasi Negara RI

Wiratmadja, AdyaG.K. 1995. Kepemimpinan Hindu. Denpasar ; Yayasan Dharma Naradha.


Refbacks

  • Saat ini tidak ada refbacks.


Copyright © 2012-2016 Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya